SEBARAN SALINITAS HORIZONTAL DI LAUT JAWA
Laut Jawa adalah dangkalan benua dengan
luas permukaan sekitar 7 % dari total
luas perairan Indonesai. Kedalaman Laut Jawa
rata-rata sekitar 40 meter terletak dibagian tenggara paparan sunda
dimana perairan tersebut terutama dipengaruhi oleh siklus monsoon (muson),
angin dan arus dari arah timur pada muson baratdaya (muson barat) dan angin dan
arus dari arah barat pada musim muson tenggara (muson timur).
Salinitas merupakan parameter penting
dalam studi oseanografi maupun iklim. Pada saat ini kesedian data salinitas air
laut masih sangat terbatas. Variasi salinitas air laut berkaitan dengan
kesetimbangan hidrologi (presipitasi-evaporasi (P-E) yang selanjutnya berkaitan
dengan variasi salinitas muka air laut (sea surface salinity/SSS). Kedua
parameter yaitu P-E dan juga salinitas ini merupakan parameter penting dalam
studi iklim maupun oseanografi. Salinitas permukaan adalah parameter yang sudah
banyak diketahui dan variasinya dapat menggambarkan sirkulasi massa air secara
menyeluruh dari Laut Jawa-Madura. Penelitian yang lebih mendalam perlu
dilakukan untuk memberikan gambaran yang lebih tepat berdasarkan wilayah,
musim, dan perubahan antar tahunan.

Gambar Peta lokasi perairan Jawa-Madura
Data Salinitas Permukaan Laut (SSS) yang digunakan
dalam penelitian ini adalah data bulanan rata-rata dari Januari 1994 – Desember
2010 dengan resolusi spasial 1o x1o dalam format NetCDF bulan-bulan yang sama. Dari hasil rata-rata vektor angin kemudian
dihitung besarnya kekuatan dan arah angin bulanan rata-rata dengan menggunakan
persamaan :
u = u c cos
α v = v c sin
α
dimana :
u = komponen zonal angin (m det-1)
v = komponen
meridional angin (m det-1) u c = resultante kecepatan angin (m det-1) α = arah angina
Secara
geografis posisi perairan laut Jawa (seperti di wilayah Indonesia pada umumnya)
terletak di antara dua benua, Asia dan Australia, serta antara Samudera Pasifik
dan Samudera Hindia, sehingga karakteristik hidrooseanografi (seperti
salinitas) perairan indonesia sangat dipengaruhi oleh sistem angin muson dan
sirkulasi massa air antar samudra.
Pada musim barat
(Desember - Februari) salinitas minimum mencapai puncaknya pada bulan Januari
atau Februari. Pada musim ini massa air dari Laut Natuna melewati Selat
Karimata memasuki Laut Jawa dari arah barat yang dalam perjalanannya banyak
mengalami pengenceran dari aliran- aliran sungai di sungai disekitarnya (Sumatera, kaliman, dan Jawa). Akibatnya
salinitas turun dan mendorong massa air
yang bersalinitas tinggi ke timur ke arah laut Flores. Sebaliknya pada
musim timur, dimana massa air laut bergerak dari Timur (laut Flores dan Selat
Makasar) ke barat memasuki laut Jawa mendorong massa air salinitas rendah di
Laut Jawa kembali ke barat sampai ke laut Cina Selatan melewati Selat Karimata.
Pola sebaran salinitas di laut Jawa akan mengikuti pola
musim, dimana angin dan gelombang pada
musim barat atau musim timur di perairan laut Jawa akan menghasilkan lapisan turbulensi atau lapisan
tercampur (mixer layer). Arus di laut Jawa pada musim timur dari bulan (Mei –
September) mengalir menuju ke arah barat. Sebaliknya pada musim barat ( November
– Maret) arus mengalir ke arah timur. Saat musim barat massa air salinitas
rendah (minimum) bergerak dari Selat Karimata ke laut Jawa dan pada musim timur
massa air salinitas tinggi (maksimum)
bergerak dari arah timur (laut Flores
dan Selat Makasar) masuk ke laut Jawa. Nilai rata-rata tahunan yang terendah di
perairan Indonesia sering dijumpai pada perairan Indonesia
bagian barat dan semakin ke timur nilai rata-rata tahunannya semakin
meningkat. Hal ini karena masuknya massa
air yang bersalinitas lebih tinggi dari Samudera sepanjang tahun.
Sebaran horizontal salinitas rata-rata bulanan tahun
1994-2010 pada permukaan di Laut Jawa masing-masing disajikan pada Gambar 3.
Salinitas permukaan (kedalaman 0 meter) di perairan Laut Jawa berkisar antara 31 – 34 (psu), dimana salinitas minimum ditemui
pada bulan Mei dan salinitas maksimum terjadi pada bulan September. Pada musim Timur (Juni – Juli)
salinitas permukaan cenderung lebih tinggi di bandingkan dengan saat musim
Barat (Desember – Februari), hal ini diduga adanya masukan massa air dari timur
Laut Jawa. Secara umum salinitas di Laut Jawa bagian selatan (perairan pantura,
Madura dan Situbondo) memiliki nilai yang cenderung lebih tinggi sepanjang
tahunnya dibandingkan dengan bagian Laut Jawa
lainnya.


Gambar Sebaran horizontal salinitas rata-rata bulanan
di Laut Jawa pada kedalaman 0 meter, (a) Januari, (b) Februari, (c) Maret, (d)
April, (e) Mei, (f) Juni, (g) Juli, (h) Agustus, (i) September, (j) Oktober,
(k) November, (l) Desember
Menurut
Wyrtki, 1961 masuknya massa air bersalinitas tinggi dari Samudera Pasifik ke
perairan Indonesia, menyebabkan sebaran salinitas permukaan di perairan
Indonesia meningkat dari barat ke timur dan berkisar antara 30 – 35 PSU.
Keadaan sebaran salinitas permukaan memperlihatkan perbedaan-perbedaan musiman
dengan variasinya relatif lebih besar dibandingkan dengan suhu. Pada Muson
barat massa air dari Laut Natuna memasuki Laut Jawa dari
arah barat yang dalam perjalanannyadalam musim hujan tersebut banyak mengalami
pengenceran dari aliran-aliran sungai dari Sumatera, kalimantan, dan Pulau
Jawa. Akibatnya salinitas turun dan mendorong massa air yang bersalinitas
tinggi ke timur ke arah Laut Flores. Dalam muson timur terjadi kebalikannya
yaitu masuknya massa air dari yang bersalinitas tinggi dari arah timur dari
Selat makasar dan Laut Flores, yang mendorong massa air
bersalinitas rendah kembali ke barat (Wyrtki, 1961; Nontji, 1987; Gordon, A.L.
2005).
Berdasarkan
hasil pengolahan data salinitas permukaan rata-rata bulanan pada tahun
1994-2007 (Gambar 4 dan Gambar 5), bahwa sebaran salinitas di permukaan di laut
Jawa menunjukkan bahwa umumnya terjadi kenaikan salinitas mulai bulan Juli
sampai dengan Nopember dan penurunan salinitas
dari Nopember sampai dengan Februari. Salinitas yang tinggi terjadi pada
tahun 2004, 2005, dan tahun 2006 dan salinitas rendah pada tahun 1997, 1999,
2000, 2001, dan 2002 dalam periode tahun tersebut. Salinitas di laut Jawa
mencapai puncaknya pada Agustus, September, Oktober, dan Nopember. Fluktuasi salinitas permukaan tersebut
diperkirakan terkait erat dengan pola variabilitas monsun yang terjadi laut Jawa.

Gambar Grafik salinitas rata-rata bulanan 1994-2007 di
laut Jawa-Madura.

Gambar
5. Fluktuasi salinitas bulanan 2001 dan 2006 terhadap rata-rata bulanan
1994-2007 di laut Jawa-Madura.
Selama musim barat,
angin bertiup ke timur dan menimbulkan hujan hampir di semua wilayah bagian
barat Indonesia. Curah hujan di laut Jawa dan
ditambah dengan aliran
sungai-sungai dari pulau-pulau Sunda Besar (Sumatera, Jawa, dan kalimantan)
menyebabkan penurunan salinitas di pantai- pantai. Kadang-kadang isohalin 30
psu terdorong jauh ke laut lepas. Pada saat yang sama arus permukaan dari laut
Cina Selatan membawa massa air bersalinitas rendah ke bagian
barat Laut Jawa dan mendorong massa air yang bersalinitas tinggi ke timur.
Sebaliknya, pada musim timur massa air dengan salinitas rendah tadi didorong
kembali ke Laut Jawa dan Laut Cina Selatan, dan diganti oleh massa air yang
bersalinitas tinggi dari Selat Makasar dan laut Flores. Fluktuasi curah hujan
rata-rata bulanan (1994 – 2010), seperti diberikan pada Gambar 6, dan Gambar 7
Fluktuasi suhu udara rata-rata bulanan pada tahun 1994-2010 di Laut Utara Jawa.
Salinitas permukaan di
perairan Laut Jawa berkisar antara 31 – 34 (psu), dimana salinitas minimum
ditemui pada bulan Mei dan salinitas
maksimum terjadi pada bulan September. Pada musim Timur (Juni – Juli) salinitas
permukaan cenderung lebih tinggi di bandingkan dengan saat musim Barat
(Desember – Februari), hal ini diduga adanya masukan massa air dari timur Laut
Jawa. Salinitas bagian selatan (perairan pantura, Madura dan Situbondo)
memiliki nilai yang cenderung lebih tinggi sepanjang tahunnya dibandingkan
dengan bagian Laut Jawa lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
Wyrtki, K. 1961. Physical Oceanography of The Southeast Asian Water. NAGA
Report Vol 2. Scripps Inst. Oceanography. The University of California. La
Jolla, California
Wyrtki, K. 1957. Precipitation, Evaporation and
Energy Exchange at the Surface of the Southeast Asian Water. Lembaga Penjilidan
Laut – Institute of Marine Research. Bogor