Minggu, 16 Juni 2019

SEBARAN SALINITAS HORIZONTAL DI LAUT JAWA


SEBARAN SALINITAS HORIZONTAL DI LAUT JAWA

Laut Jawa adalah dangkalan benua dengan luas permukaan sekitar   7 % dari total luas perairan Indonesai. Kedalaman Laut Jawa  rata-rata sekitar 40 meter terletak dibagian tenggara paparan sunda dimana perairan tersebut terutama dipengaruhi oleh siklus monsoon (muson), angin dan arus dari arah timur pada muson baratdaya (muson barat) dan angin dan arus dari arah barat pada musim muson tenggara (muson timur).
Salinitas merupakan parameter penting dalam studi oseanografi maupun iklim. Pada saat ini kesedian data salinitas air laut masih sangat terbatas. Variasi salinitas air laut berkaitan dengan kesetimbangan hidrologi (presipitasi-evaporasi (P-E) yang selanjutnya berkaitan dengan variasi salinitas muka air laut (sea surface salinity/SSS). Kedua parameter yaitu P-E dan juga salinitas ini merupakan parameter penting dalam studi iklim maupun oseanografi. Salinitas permukaan adalah parameter yang sudah banyak diketahui dan variasinya dapat menggambarkan sirkulasi massa air secara menyeluruh dari Laut Jawa-Madura. Penelitian yang lebih mendalam perlu dilakukan untuk memberikan gambaran yang lebih tepat berdasarkan wilayah, musim, dan perubahan antar tahunan.
Gambar Peta lokasi perairan  Jawa-Madura

Data Salinitas Permukaan Laut (SSS) yang digunakan dalam penelitian ini adalah data bulanan rata-rata dari Januari 1994 – Desember 2010 dengan resolusi spasial 1o x1o dalam format NetCDF bulan-bulan yang sama. Dari hasil rata-rata vektor angin kemudian dihitung besarnya kekuatan dan arah angin bulanan rata-rata dengan menggunakan persamaan :

u = u c cos α v = v c sin α
dimana :
u    = komponen zonal angin (m det-1)
v          = komponen meridional angin (m det-1) u c   = resultante kecepatan angin (m det-1) α          = arah angina
Secara geografis posisi perairan laut Jawa (seperti di wilayah Indonesia pada umumnya) terletak di antara dua benua, Asia dan Australia, serta antara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia, sehingga karakteristik hidrooseanografi (seperti salinitas) perairan indonesia sangat dipengaruhi oleh sistem angin muson dan sirkulasi massa air antar samudra.
Pada musim barat (Desember - Februari) salinitas minimum mencapai puncaknya pada bulan Januari atau Februari. Pada musim ini massa air dari Laut Natuna melewati Selat Karimata memasuki Laut Jawa dari arah barat yang dalam perjalanannya banyak mengalami pengenceran dari aliran- aliran sungai di sungai disekitarnya  (Sumatera, kaliman, dan Jawa). Akibatnya salinitas turun dan mendorong  massa  air  yang bersalinitas tinggi ke timur ke arah laut Flores. Sebaliknya pada musim timur, dimana massa air laut bergerak dari Timur (laut Flores dan Selat Makasar) ke barat memasuki laut Jawa mendorong massa air salinitas rendah di Laut Jawa kembali ke barat sampai ke laut Cina Selatan melewati Selat Karimata.
Pola sebaran salinitas di laut Jawa akan mengikuti pola musim, dimana angin  dan gelombang pada musim barat atau musim timur di perairan laut Jawa akan  menghasilkan lapisan turbulensi atau lapisan tercampur (mixer layer). Arus di laut Jawa pada musim timur dari bulan (Mei – September) mengalir menuju ke arah barat. Sebaliknya pada musim barat ( November – Maret) arus mengalir ke arah timur. Saat musim barat massa air salinitas rendah (minimum) bergerak dari Selat Karimata ke laut Jawa dan pada musim timur massa air salinitas tinggi (maksimum) bergerak  dari arah timur (laut Flores dan Selat Makasar) masuk ke laut Jawa. Nilai rata-rata tahunan yang terendah di perairan Indonesia sering dijumpai pada perairan  Indonesia  bagian barat dan semakin ke timur nilai rata-rata tahunannya semakin meningkat. Hal ini  karena masuknya massa air yang bersalinitas lebih tinggi dari Samudera sepanjang tahun.
Sebaran horizontal salinitas rata-rata bulanan tahun 1994-2010 pada permukaan di Laut Jawa masing-masing disajikan pada Gambar 3. Salinitas permukaan (kedalaman 0 meter) di perairan Laut Jawa berkisar antara 31 – 34 (psu), dimana salinitas minimum ditemui pada bulan Mei dan salinitas maksimum terjadi pada bulan  September. Pada musim Timur (Juni – Juli) salinitas permukaan cenderung lebih tinggi di bandingkan dengan saat musim Barat (Desember – Februari), hal ini diduga adanya masukan massa air dari timur Laut Jawa. Secara umum salinitas di Laut Jawa bagian selatan (perairan pantura, Madura dan Situbondo) memiliki nilai yang cenderung lebih tinggi sepanjang tahunnya dibandingkan dengan bagian Laut Jawa lainnya.
















Gambar  Sebaran horizontal salinitas rata-rata bulanan di Laut Jawa pada kedalaman 0 meter, (a) Januari, (b) Februari, (c) Maret, (d) April, (e) Mei, (f) Juni, (g) Juli, (h) Agustus, (i) September, (j) Oktober, (k) November, (l) Desember

Menurut Wyrtki, 1961 masuknya massa air bersalinitas tinggi dari Samudera Pasifik ke perairan Indonesia, menyebabkan sebaran salinitas permukaan di perairan Indonesia meningkat dari barat ke timur dan berkisar antara 30 – 35 PSU. Keadaan sebaran salinitas permukaan memperlihatkan perbedaan-perbedaan musiman dengan variasinya relatif lebih besar dibandingkan dengan suhu. Pada Muson barat  massa  air dari Laut Natuna memasuki Laut Jawa dari arah barat yang dalam perjalanannyadalam musim hujan tersebut banyak mengalami pengenceran dari aliran-aliran sungai dari Sumatera, kalimantan, dan Pulau Jawa. Akibatnya salinitas turun dan mendorong massa air yang bersalinitas tinggi ke timur ke arah Laut Flores. Dalam muson timur terjadi kebalikannya yaitu masuknya massa air dari yang bersalinitas tinggi dari arah timur dari Selat makasar dan Laut Flores, yang mendorong massa air bersalinitas rendah kembali ke barat (Wyrtki, 1961; Nontji, 1987; Gordon, A.L. 2005).
Berdasarkan hasil pengolahan data salinitas permukaan rata-rata bulanan pada tahun 1994-2007 (Gambar 4 dan Gambar 5), bahwa sebaran salinitas di permukaan di laut Jawa menunjukkan bahwa umumnya terjadi kenaikan salinitas mulai bulan Juli sampai dengan Nopember dan penurunan salinitas  dari Nopember sampai dengan Februari. Salinitas yang tinggi terjadi pada tahun 2004, 2005, dan tahun 2006 dan salinitas rendah pada tahun 1997, 1999, 2000, 2001, dan 2002 dalam periode tahun tersebut. Salinitas di laut Jawa mencapai puncaknya pada Agustus, September, Oktober, dan Nopember.  Fluktuasi salinitas permukaan tersebut diperkirakan terkait erat dengan pola variabilitas monsun yang terjadi laut Jawa.

Gambar Grafik salinitas rata-rata bulanan 1994-2007 di laut Jawa-Madura.

Gambar 5. Fluktuasi salinitas bulanan 2001 dan 2006 terhadap rata-rata bulanan 1994-2007 di laut Jawa-Madura.

Selama musim barat, angin bertiup ke timur dan menimbulkan hujan hampir di semua wilayah bagian barat Indonesia. Curah hujan di laut Jawa dan  ditambah  dengan aliran sungai-sungai dari pulau-pulau Sunda Besar (Sumatera, Jawa, dan kalimantan) menyebabkan penurunan salinitas di pantai- pantai. Kadang-kadang isohalin 30 psu terdorong jauh ke laut lepas. Pada saat yang sama arus permukaan dari laut Cina Selatan membawa massa air bersalinitas rendah ke bagian barat Laut Jawa dan mendorong massa air yang bersalinitas tinggi ke timur. Sebaliknya, pada musim timur massa air dengan salinitas rendah tadi didorong kembali ke Laut Jawa dan Laut Cina Selatan, dan diganti oleh massa air yang bersalinitas tinggi dari Selat Makasar dan laut Flores. Fluktuasi curah hujan rata-rata bulanan (1994 – 2010), seperti diberikan pada Gambar 6, dan Gambar 7 Fluktuasi suhu udara rata-rata bulanan pada tahun 1994-2010 di Laut Utara Jawa.
Salinitas permukaan di perairan Laut Jawa berkisar antara 31 – 34 (psu), dimana salinitas minimum ditemui pada bulan Mei  dan salinitas maksimum terjadi pada bulan September. Pada musim Timur (Juni – Juli) salinitas permukaan cenderung lebih tinggi di bandingkan dengan saat musim Barat (Desember – Februari), hal ini diduga adanya masukan massa air dari timur Laut Jawa. Salinitas bagian selatan (perairan pantura, Madura dan Situbondo) memiliki nilai yang cenderung lebih tinggi sepanjang tahunnya dibandingkan dengan bagian Laut Jawa lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

Wyrtki, K. 1961. Physical Oceanography of The Southeast Asian Water. NAGA Report Vol 2. Scripps Inst. Oceanography. The University of California. La Jolla, California
Wyrtki, K. 1957. Precipitation, Evaporation and Energy Exchange at the Surface of the Southeast Asian Water. Lembaga Penjilidan Laut – Institute of Marine Research. Bogor